Belajar Itu Menghafal Atau Memahami

Mengapa sistem pendidikan masih mengharapkan siswanya menghafal dan memuntahkan informasi ketika dalam menghadapi ujian?

belajar, paham, hafal

Kita sekarang berada pada periode di mana informasi dapat diakses secara luas, dan sebagian besar informasi dapat ditemukan baik secara online atau offline.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita menyimpan buku referensi dan database pedoman online di dekat kita. Bahkan itu di ujung jari, berkat perangkat seluler sebagai referensi. Fungsinya bisa mengonfirmasi penilaian, melakukan berbagai hal berdasarkan bukti, dan meminimalkan kesalahan manusia.

Mengingat hal ini jadi sebenarnya belajar itu sebaiknya menghafal atau harus memahami, karena mengapa banyak ujian didasarkan pada dasar pengujian daya ingat?

Meminta siswa untuk mengingat sesuatu tidak membantu pembelajaran mereka karena kebanyakan siswa memilih untuk menggunakan ingatan jangka pendek mereka untuk ujian dan melupakan semuanya segera setelahnya, daripada memasukkan informasi ke dalam ingatan jangka panjang mereka (yang memang membutuhkan lebih banyak usaha karena perlu diingat dan ditinjau secara berkala).

Kita semua mengerti bahwa memiliki segala sesuatu yang terikat pada ingatan itu penting untuk pengambilan keputusan yang cepat, dan ini bisa menjadi alasan yang baik untuk ujian untuk menguji ingatan kita tentang suatu topik.

Namun, orang bisa berpendapat bahwa ujian seperti tes ingatan kita tentang suatu subjek bukanlah jalan ke depan. Apakah kamu termasuk seorang pendukung penilaian gaya kertas esai panjang dan ujian terbuka?

Daripada membuang-buang waktu mencoba menghafal pengetahuan yang disampaikan kepada kita, menulis makalah penelitian yang dimulai sendiri atau menggunakan informasi yang diberikan untuk menyelesaikan makalah evaluasi dan analisis mendorong dan mengembangkan pemikiran berbasis aplikasi dan sintesis. Ini membutuhkan pemahaman daripada hafalan mentah dan lebih mengembangkan keterampilan penting di era kita saat ini:

  • Identifikasi yang tepat dari informasi dan sumber yang berguna, relevan dan andal dalam tsunami informasi yang tersedia
  • Meninjau berbagai sumber informasi dan mengevaluasi apa yang seharusnya menjadi tindakan optimal
  • Sintesis pengetahuan kita sendiri berdasarkan informasi yang dipelajari
  • Menerapkan ilmu tersebut untuk menyelesaikan berbagai masalah

Dengan menyelesaikan poin-poin diatas, kita secara alami akan menyaring pengetahuan apa yang penting dan relevan. Melalui pemahaman yang diperoleh tentang suatu topik, maka secara alami akan mengingat informasi yang sering muncul.

Kita juga akan memiliki sesuatu untuk diambil dari informasi yang ada, seperti sepotong tulisan untuk referensi oleh diri di masa depan, bukti seberapa jauh kita belajar, dan potensi pengetahuan baru yang dapat dibagikan dengan orang lain. Bukan sekadar kertas ujian bertanda yang segera tidak berguna atau nilai yang dengan cepat hilang begitu saja.

Menguji melalui ingatan, bagaimanapun, masih merupakan cara yang paling efektif bagi siswa untuk belajar melalui menghafal, atau bukti yang menunjukkan.

Lalu apa yang salah dengan tes dan ujian berbasis daya ingat? Jika tujuan kita adalah untuk mengembangkan manusia menjadi "hard drive biologis" yang tidak memiliki keterampilan dalam interpretasi data dan informasi, generasi ide, dan penerapan pengetahuan yang efektif, maka mengahafal itu adalah metode pendidikan yang sempurna.


Related Posts

Published by

penulis

penulis

Hanya orang biasa yang senang belajar suatu hal baru dari media online. Tidak mau mengaku sebagai orang yang kreatif, sementara hanya menghadirkan karya non-fiksi, bukan karya ilmiah, bukan juga makalah atau jurnal. Ini bukan karya besar, hanya artikel yang dituangkan untuk bisa mewakili ide sendiri, pikiran, serta perasaan sendiri. Namun tetap bersumber pada informasi yang bertebaran di jagat maya.