Bakom RI Sebut Pelacak di Mobil Eks Ketua BEM UGM Terlalu Kuno

JAKARTA — Sebuah tamparan keras bagi industri perangkat keras mata-mata. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari, baru saja memberikan ulasan produk (product review) yang sangat jujur dan mencerahkan terkait penemuan alat pelacak (tracker) fisik bermerek "PBX Finder" di kolong mobil mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Dengan nada bicara setenang admin toko komputer high-end, Qodari menegaskan bahwa benda hitam yang menempel di sasis mobil itu adalah barang antik. Negara, menurut penjelasannya, sudah lama move on dari teknologi kelas dhuafa seperti itu. Mengintai pakai alat fisik yang ditempel-tempel di kolong mobil dinilai sangat "film jadul" dan tidak mencerminkan estetika intelijen modern yang minimalis.

Intelijen Wireless Tanpa Alat: Melacak Menggunakan Kekuatan Pikiran?

pbx finder gps

Meskipun Qodari secara jantan mengaku tidak memiliki pemahaman teknis yang mendalam soal dunia persandian dan pelacakan, beliau sangat yakin bahwa teknologi pelacakan modern saat ini sudah berbasis perangkat lunak.

Pernyataan ini tentu memicu spekulasi liar di kalangan netizen. Jika negara sudah tidak memakai alat fisik, apakah ini artinya aparat kita sekarang melacak target menggunakan software supranatural? Ataukah mereka cukup memandangi foto target di Instagram lalu melacak keberadaannya lewat getaran frekuensi batin dan bantuan khodam pelindung?

"Yang masang di mobil Tiyo itu mungkin amatiran. Kalau sekelas negara yang pasang, mobilnya tidak perlu ditempeli apa-apa. Tiba-tiba saja pengemudinya merasa rindu rumah dan langsung pulang sendiri," bisik seorang netizen yang terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah.

Teori Konspirasi "Adu Domba" dan Misteri Pengusaha Rental Mobil

Qodari juga melemparkan sebuah plot twist yang sangat sinematik: ada kemungkinan pemasangan alat kuno itu adalah upaya "adu domba". Sebuah strategi yang sangat brilian dari sang pelaku amatir—membeli alat pelacak jadul, merangkak di bawah kolong mobil mahasiswa, hanya untuk membuat pemerintah dituduh kurang kerjaan.

Di sisi lain, publik juga diingatkan pada fakta bahwa GPS tracker sebenarnya adalah barang wajib bagi para pemilik jasa rental mobil agar kendaraan mereka tidak digadaikan oleh penyewa yang nakal. Namun tentu saja, narasi "dimata-matai intelijen negara dengan alat kuno" terdengar jauh lebih keren dan sinematik untuk konten media sosial ketimbang "pemilik rental sedang memantau asetnya agar tidak dibawa kabur ke luar kota".

Jangan Asal Tuding, Utamakan Asas "Praduga Tak Punya Alat"

Bakom RI meminta semua pihak untuk tidak melakukan "loncatan vonis" yang terburu-buru. Sebelum menuding pihak tertentu, Tiyo diminta untuk membawa bukti yang jelas. Misalnya, rekaman CCTV beresolusi 4K yang memperlihatkan pelaku sedang memasang alat sambil menunjukkan KTP dan surat tugas resmi ke arah kamera.

Jika belum ada bukti sejelas itu, maka tuduhan tersebut hanyalah insinuasi belaka. Qodari menyarankan agar kasus ini dilaporkan ke penegak hukum untuk diinvestigasi secara menyeluruh, agar kita tahu pasti siapa oknum yang tega-teganya menggunakan teknologi sekuno itu di tahun 2026 yang serba digital ini.

Kesimpulan: Imbauan untuk Para Pengintai Amatir

Bagi Anda yang berniat mengintai mantan pacar atau melacak mobil sewaan, harap perbarui peralatan Anda. Jangan lagi membeli alat pelacak fisik yang harus ditempel di kolong mobil karena itu hanya akan membuat Anda diejek oleh Badan Komunikasi Pemerintah karena ketinggalan zaman.

Gunakanlah metode pelacakan modern yang tidak terlihat, tidak terasa, dan kalau bisa, langsung terintegrasi dengan algoritma takdir. Mari kita hargai upaya pemerintah yang ingin menjaga estetika teknologi bangsa agar tetap terlihat canggih di mata dunia!


Artikel terkait

Telah terbit oleh

montir

montir

Senang menulis hal terkait dengan dunia otomotif, termasuk mobil & motor. Sering sekali memperbaiki khususnya tulisan yang salah, kurang lengkap dan menambahkan aksesori pelengkap catatan.