Pemerintah kembali menyiapkan skema insentif untuk mendorong pasar motor listrik di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan skema tersebut masih dalam tahap pematangan, tetapi anggarannya telah tersedia dan Presiden Prabowo Subianto sudah memberikan persetujuan.
Menariknya, Airlangga juga menyebut dua merek motor listrik lokal yang akan mendapatkan insentif, yakni Alva dan Gesits.

"Untuk produknya, salah satunya Alva, salah duanya Gesits," ujar Airlangga setelah Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, seperti dikutip Antara.
Meski demikian, pemerintah belum membeberkan secara rinci berapa besar insentif, bentuk bantuan, kuota, maupun mekanisme penyalurannya. Airlangga menegaskan skemanya masih dimatangkan.
Alva dan Gesits Jadi Dua Merek yang Disebut Airlangga
Dua merek yang disebut secara langsung adalah Alva dan Gesits.
Keduanya merupakan merek yang telah mengembangkan dan memproduksi sepeda motor listrik di Indonesia. Alva berada di bawah PT Ilectra Motor Group, sementara Gesits dikenal sebagai salah satu pionir motor listrik nasional.
Nama Alva juga menjadi sorotan karena fasilitas produksinya di Cikarang, Jawa Barat, menjadi lokasi peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) oleh Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026.
Dalam acara tersebut, Presiden meninjau proses produksi motor listrik di fasilitas Alva sekaligus melihat ekosistem kendaraan listrik yang dikembangkan di lokasi tersebut.
Namun, penyebutan Alva dan Gesits oleh Airlangga perlu dibaca secara hati-hati. Belum ada rincian resmi mengenai formula insentif yang secara spesifik akan diterima masing-masing merek.
Dengan kata lain, informasi yang tersedia saat ini baru memastikan kedua merek tersebut disebut pemerintah sebagai produk yang akan masuk skema insentif.
Penjualan Motor Listrik Pernah Melonjak Saat Ada Insentif
Rencana insentif baru tidak terlepas dari pengalaman program bantuan pembelian kendaraan listrik sebelumnya.
Data penjualan berdasarkan Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan menunjukkan pasar motor listrik mengalami lonjakan signifikan sejak program insentif diberlakukan.
Penjualan tercatat:
| Tahun | Motor listrik |
|---|---|
| 2022 | 17.198 unit |
| 2023 | 62.409 unit |
| 2024 | 77.078 unit |
| 2025 | 55.059 unit |
Penjualan melonjak sekitar 263 persen dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023. Pada 2024, angkanya kembali meningkat menjadi 77.078 unit.
Namun, ketika dukungan insentif tidak berlanjut, penjualan 2025 turun menjadi 55.059 unit atau sekitar 28,6 persen dibandingkan 2024.
Tren tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kepastian kebijakan pemerintah menjadi faktor penting bagi industri motor listrik.
Bantuan Pembelian Pernah Terserap Puluhan Ribu Unit
Program bantuan pembelian kendaraan listrik roda dua pada 2023 dan 2024 juga menunjukkan tingginya respons pasar ketika harga kendaraan mendapat dukungan pemerintah.
Program tersebut melibatkan 22 perusahaan industri dan 70 tipe/model kendaraan.
Penyaluran bantuan tercatat sebanyak 11.532 unit pada 2023. Jumlah tersebut kemudian melonjak menjadi 62.541 unit pada 2024.
Secara kumulatif, sebanyak 74.073 unit telah mendapatkan bantuan pembelian pada periode tersebut.
Angka itu memperlihatkan bahwa insentif tidak hanya berpengaruh terhadap harga yang dibayar konsumen, tetapi juga dapat membantu produsen meningkatkan penyerapan produk.
Mengapa Pemerintah Kembali Mendorong Motor Listrik?
Ada beberapa kepentingan yang berada di balik pengembangan kendaraan listrik roda dua.
Pertama, pemerintah ingin memperluas pasar kendaraan listrik domestik.
Kedua, peningkatan penggunaan kendaraan listrik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM.
Ketiga, pemerintah ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga memiliki kemampuan manufaktur dan rantai pasok sendiri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menyebut Indonesia sudah memiliki fondasi manufaktur kendaraan listrik yang cukup besar.
Saat ini terdapat 69 perusahaan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua dan roda tiga dengan kapasitas produksi sekitar 2,511 juta unit per tahun.
Artinya, kapasitas produksi industri sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan penyerapan pasar saat ini.
Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan permintaan sehingga kapasitas tersebut dapat digunakan secara optimal.
Kapasitas Produksi Motor Listrik Indonesia Mencapai 2,5 Juta Unit
Besarnya kapasitas produksi menjadi salah satu persoalan penting dalam industri motor listrik nasional.
Dengan kapasitas sekitar 2,511 juta unit per tahun, angka penjualan 55.059 unit pada 2025 masih sangat kecil dibandingkan kemampuan produksi yang tersedia.
Ini berarti persoalan industri bukan semata-mata kemampuan membuat motor listrik.
Pasarnya yang perlu diperbesar.
Agus Gumiwang menilai pemerintah perlu memastikan pasar tumbuh secara berkelanjutan, utilisasi kapasitas produksi meningkat, dan struktur industri semakin dalam melalui penggunaan komponen buatan dalam negeri.
Dengan demikian, insentif pemerintah diharapkan tidak berhenti pada peningkatan penjualan jangka pendek.
Kebijakan tersebut juga harus mendorong tumbuhnya industri komponen, baterai, teknologi dan jaringan pendukung kendaraan listrik.
MoLiNas Jadi Momentum Pengembangan Industri Lokal
Peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) menjadi bagian dari agenda pemerintah memperkuat ekosistem kendaraan listrik dalam negeri.
Presiden Prabowo meluncurkan ekosistem MoLiNas di fasilitas produksi Alva di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026.
MoLiNas tidak hanya diarahkan sebagai satu produk motor listrik.
Konsepnya mencakup rantai ekosistem yang lebih luas, mulai dari:
- manufaktur kendaraan;
- komponen;
- baterai;
- infrastruktur pengisian daya;
- battery swapping;
- pembiayaan;
- distribusi;
- layanan purnajual;
- hingga penyerapan pasar.
PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator untuk mengoordinasikan berbagai pihak dalam ekosistem tersebut.
Karena itu, kebijakan insentif dan MoLiNas memiliki keterkaitan dengan strategi yang lebih besar: membangun industri kendaraan listrik nasional dari hulu sampai hilir.
Alva Punya Peran Penting dalam Ekosistem MoLiNas
Pemilihan fasilitas Alva sebagai lokasi peluncuran MoLiNas juga memperlihatkan posisi perusahaan dalam agenda kendaraan listrik nasional.
Dalam acara tersebut, Presiden Prabowo meninjau langsung proses produksi motor listrik di fasilitas Alva.
Presiden juga meninjau stan yang menampilkan berbagai bagian ekosistem kendaraan listrik dan menandatangani plakat produksi Alva sebanyak 20 ribu unit.
Namun, peluncuran MoLiNas tidak otomatis berarti seluruh produk Alva merupakan MoLiNas.
Keduanya perlu dibedakan: Alva merupakan merek dan produsen kendaraan listrik, sedangkan MoLiNas merupakan ekosistem dan program pengembangan kendaraan listrik nasional yang lebih luas.
Bagaimana dengan Gesits?
Gesits juga bukan pemain baru dalam industri motor listrik Indonesia.
Merek tersebut telah lama dikembangkan sebagai salah satu motor listrik nasional dan pernah menjadi salah satu merek yang memperoleh manfaat dari program bantuan pembelian kendaraan listrik sebelumnya.
Karena itu, penyebutan Gesits oleh Airlangga menunjukkan bahwa pemerintah masih melihat produsen lokal sebagai bagian penting dalam pengembangan pasar motor listrik nasional.
Namun, seperti halnya Alva, pemerintah belum mengungkap detail mengenai model Gesits mana saja yang akan mendapatkan insentif, berapa unit kuotanya, dan berapa nilai bantuan per unit.
Informasi tersebut masih menunggu pematangan skema pemerintah.
Bukan Berarti Semua Motor Listrik Lokal Dapat Insentif
Poin ini penting bagi calon pembeli.
Pernyataan Airlangga tidak bisa langsung diartikan bahwa seluruh motor listrik lokal otomatis mendapatkan potongan harga.
Pemerintah masih menyusun mekanisme insentif.
Selain merek, kemungkinan akan ada persyaratan terkait produk, tingkat kandungan dalam negeri, produksi domestik, harga, maupun ketentuan administratif lain. Namun, detail persyaratan tersebut belum disampaikan dalam pernyataan Airlangga yang menjadi dasar informasi ini.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak menggunakan angka subsidi atau potongan tertentu sebelum pemerintah mengumumkan aturan resminya.
Pasar Motor Listrik Masih Punya Ruang Tumbuh Besar
Penurunan penjualan pada 2025 menunjukkan bahwa pasar motor listrik Indonesia masih sensitif terhadap kebijakan harga.
Pada 2024, penjualan mencapai 77.078 unit.
Setahun kemudian, angkanya turun menjadi 55.059 unit.
Jika dibandingkan dengan total pasar sepeda motor Indonesia yang mencapai jutaan unit per tahun, penetrasi motor listrik masih sangat kecil. Data SRUT Kemenhub juga memperlihatkan bahwa meskipun penjualan sempat meningkat pesat, jaraknya masih sangat jauh dari kapasitas produksi industri nasional.
Situasi tersebut menciptakan dua pekerjaan rumah sekaligus bagi pemerintah:
mendorong konsumen membeli motor listrik dan memastikan industri lokal mampu berkembang secara berkelanjutan.
Tantangan Berikutnya Bukan Sekadar Menjual Motor
Pemerintah kini menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan angka penjualan.
Jika insentif hanya menghasilkan lonjakan penjualan sementara, industri tetap akan menghadapi persoalan ketika bantuan dihentikan.
Karena itu, ekosistem harus dibangun agar motor listrik tetap menarik tanpa bergantung sepenuhnya pada subsidi.
Hal tersebut mencakup harga baterai, jaringan servis, ketersediaan suku cadang, infrastruktur pengisian atau penukaran baterai, pembiayaan, nilai jual kembali, hingga kualitas produk.
Dengan kata lain, insentif dapat menjadi pemicu, tetapi bukan satu-satunya fondasi pasar motor listrik.
Alva dan Gesits, Dua Merek yang Kini Disorot
Untuk sementara, Alva dan Gesits menjadi dua merek yang secara eksplisit disebut Airlangga Hartarto dalam rencana insentif baru pemerintah.
Keduanya memiliki posisi berbeda tetapi sama-sama penting dalam perjalanan industri motor listrik nasional.
Alva saat ini menjadi bagian dari ekosistem MoLiNas dan memiliki fasilitas produksi di Cikarang.
Sementara Gesits telah lama dikenal sebagai salah satu pionir motor listrik nasional.
Keduanya kini menunggu kepastian skema yang sedang dimatangkan pemerintah.
Yang masih belum diketahui adalah berapa besar insentifnya, kapan mulai berlaku, berapa kuotanya, model apa yang masuk, serta bagaimana konsumen dapat memanfaatkannya.
Sampai pemerintah menerbitkan ketentuan resmi, informasi tersebut belum bisa dipastikan.
FAQ
Apa merek motor listrik yang disebut mendapat insentif pemerintah? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Alva dan Gesits sebagai dua merek yang produknya akan masuk skema insentif yang sedang dimatangkan pemerintah.
Berapa besar insentif motor listrik terbaru? Besaran insentif belum dijelaskan dalam pernyataan Airlangga yang menjadi dasar informasi ini.
Kapan insentif motor listrik mulai berlaku? Pemerintah belum memberikan jadwal pelaksanaan yang pasti. Skemanya masih dalam tahap pematangan.
Apakah semua motor Alva dan Gesits mendapatkan insentif? Belum dapat dipastikan. Pemerintah belum mengumumkan rincian model, kuota dan persyaratan produk yang masuk program.
Mengapa pemerintah memberikan insentif motor listrik? Salah satu tujuannya adalah memperbesar pasar kendaraan listrik sekaligus mendorong pengembangan industri dan rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia.
Berapa penjualan motor listrik Indonesia pada 2025? Data SRUT Kementerian Perhubungan yang dikutip sejumlah laporan industri mencatat 55.059 unit pada 2025, turun sekitar 28,6 persen dari 77.078 unit pada 2024.
Berapa kapasitas produksi motor listrik Indonesia? Kementerian Perindustrian menyebut terdapat 69 perusahaan KBLBB roda dua dan roda tiga dengan total kapasitas produksi sekitar 2,511 juta unit per tahun.