10 Jenis Ikan yang Tidak Boleh Dikonsumsi Beserta Alasannya

Ikan dikenal sebagai salah satu sumber protein yang baik dan mengandung berbagai zat gizi penting. Namun, bukan berarti semua jenis ikan aman dikonsumsi dalam kondisi apa pun.

Beberapa ikan dapat mengandung racun alami, sementara jenis ikan tertentu dapat mengakumulasi merkuri dalam kadar tinggi. Risiko juga bisa muncul karena ikan berasal dari perairan yang tercemar, ditangkap di wilayah yang memiliki kasus toksin tertentu, atau dikonsumsi dalam kondisi mentah dan kurang matang.

Karena itu, istilah “ikan yang tidak boleh dikonsumsi” perlu dipahami dengan hati-hati. Tidak semua ikan dalam daftar berikut dilarang secara mutlak. Ada yang sebaiknya dihindari oleh kelompok tertentu, ada yang harus dihindari jika berasal dari wilayah tertentu, dan ada pula yang memang memiliki risiko toksin sehingga pengolahan biasa tidak cukup untuk membuatnya aman.

Berikut 10 jenis ikan yang perlu mendapat perhatian.

1. Ikan Buntal

ikan buntal beracun

Ikan buntal merupakan salah satu ikan yang paling dikenal karena risiko racunnya.

Beberapa spesies ikan buntal mengandung tetrodotoksin (TTX), yaitu racun yang dapat menyerang sistem saraf. Racun ini dapat ditemukan pada bagian tertentu dari ikan dan dapat menyebabkan keracunan serius.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memasukkan pufferfish atau ikan buntal sebagai pangan yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena risiko tetrodotoksin. FDA juga menyebut konsumen yang memilih mengonsumsi pufferfish sebaiknya hanya mendapatkannya dari sumber yang diketahui aman.

Di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga mencantumkan ikan beracun dari beberapa famili, termasuk Tetraodontidae, sebagai jenis ikan yang memerlukan perhatian dalam produk perikanan untuk konsumsi manusia.

Kenapa ikan buntal berbahaya?

Tetrodotoksin dapat mengganggu kerja saraf dan menyebabkan:

  • kesemutan atau mati rasa;
  • kelemahan otot;
  • gangguan pernapasan;
  • kelumpuhan;
  • hingga kematian pada keracunan berat.

Yang perlu diperhatikan, memasak ikan tidak boleh dianggap sebagai cara sederhana untuk menghilangkan risiko tetrodotoksin.

Karena itu, ikan buntal tidak sebaiknya diolah sendiri tanpa pengetahuan dan sumber yang benar-benar terjamin.


2. Ikan Barakuda

Ikan Barakuda

Barakuda (barracuda) merupakan salah satu ikan yang dapat terkait dengan ciguatera fish poisoning.

Ciguatera terjadi ketika ikan karang mengandung toksin seperti ciguatoxin yang berasal dari organisme laut mikroskopis dan kemudian terakumulasi dalam rantai makanan.

CDC menyebut barakuda sebagai salah satu ikan yang dapat membawa toksin penyebab ciguatera.

Apa bahayanya?

Keracunan ciguatera dapat menyebabkan:

  • mual;
  • muntah;
  • diare;
  • sakit perut;
  • kesemutan;
  • kelemahan;
  • gangguan sensasi panas dan dingin.

Pada kasus tertentu, gejala neurologis dapat berlangsung lama.

Yang membuatnya sulit dikenali adalah ikan yang mengandung ciguatoxin tidak selalu terlihat, berbau, atau terasa berbeda dari ikan yang aman. CDC juga menyebut proses memasak tidak menghancurkan toksin penyebab ciguatera.

Karena itu, barakuda dari wilayah yang diketahui memiliki risiko ciguatera perlu dihindari.


3. Ikan Kerapu

Kerapu merupakan ikan yang umum dikonsumsi dan tidak berarti semua kerapu beracun.

Masalahnya adalah beberapa ikan karang, termasuk grouper atau kerapu, dapat menjadi pembawa ciguatoxin.

CDC memasukkan grouper sebagai salah satu ikan karang yang dapat terkait dengan keracunan ciguatera.

Risiko tersebut berkaitan dengan lokasi ikan ditangkap dan kondisi ekosistem, bukan semata-mata karena nama spesiesnya.

Karena itu, tidak tepat mengatakan:

“Semua ikan kerapu tidak boleh dimakan.”

Yang lebih tepat adalah menghindari kerapu dari wilayah yang diketahui memiliki risiko ciguatera.


4. Ikan Kakap Merah

Kakap merah atau red snapper juga termasuk ikan karang yang dapat membawa toksin penyebab ciguatera.

CDC mencantumkan red snapper sebagai salah satu ikan yang dapat menjadi sumber ciguatera.

Gejalanya dapat muncul beberapa jam setelah ikan dikonsumsi dan meliputi gangguan pencernaan serta gangguan saraf.

Salah satu ciri yang membuat ciguatera sulit dicegah hanya dengan pemeriksaan biasa adalah toksinnya tidak membuat ikan otomatis berubah warna, bau, atau rasa.

Dengan demikian, asal ikan menjadi faktor penting.


5. Ikan Amberjack

Amberjack atau ikan dari kelompok Seriola juga termasuk ikan karang yang dapat terkait dengan ciguatera.

CDC memasukkan amberjack dalam kelompok ikan karang yang dapat membawa toksin penyebab ciguatera.

Risikonya lebih berkaitan dengan wilayah penangkapan dan rantai makanan di ekosistem terumbu karang.

Ikan predator yang lebih besar dapat mengakumulasi toksin dari organisme dan ikan yang dimakannya.

Karena itu, ikan jenis ini sebaiknya tidak dikonsumsi jika berasal dari daerah dengan peringatan atau riwayat ciguatera.


Ikan dengan Merkuri Tinggi

Kelompok berikut memiliki alasan berbeda.

Masalahnya bukan racun yang secara alami terdapat pada daging ikan seperti tetrodotoksin, melainkan methylmercury, bentuk merkuri yang dapat terakumulasi dalam tubuh ikan.

Merkuri dapat menjadi perhatian khusus bagi janin, bayi, dan anak-anak karena dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf. FDA mencatat hampir semua ikan dan kerang mengandung sejumlah methylmercury, tetapi kadarnya sangat berbeda antarjenis.

6. Ikan Hiu

Hiu merupakan predator besar yang berada di tingkat atas rantai makanan.

Karena proses bioakumulasi dan biomagnifikasi, ikan predator berumur panjang dan berukuran besar dapat memiliki kadar methylmercury lebih tinggi.

FDA memasukkan shark dalam kelompok ikan dengan kadar merkuri tertinggi yang perlu dihindari dalam panduan konsumsi untuk kelompok rentan, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.

Jadi, bukan berarti setiap orang yang memakan sedikit ikan hiu langsung mengalami keracunan merkuri. Persoalannya adalah paparan merkuri yang berlebihan dan berulang.


7. Ikan Todak atau Swordfish

Swordfish atau ikan todak merupakan ikan predator besar yang juga termasuk kelompok dengan kadar merkuri tinggi.

FDA memasukkannya dalam kategori “Choice to Avoid” karena termasuk ikan dengan kadar merkuri tertinggi.

Risiko merkuri menjadi lebih penting bagi:

  • ibu hamil;
  • orang yang sedang merencanakan kehamilan;
  • ibu menyusui;
  • bayi;
  • dan anak-anak.

Untuk kelompok tersebut, pemilihan jenis ikan dengan kadar merkuri lebih rendah menjadi sangat penting.


8. Ikan King Mackerel

King mackerel berbeda dari beberapa jenis makerel yang justru termasuk pilihan ikan dengan kadar merkuri rendah.

King mackerel termasuk kelompok ikan dengan kadar merkuri tertinggi dalam panduan FDA.

Hal ini penting karena istilah “makarel” saja tidak cukup untuk menentukan tingkat keamanannya.

FDA justru memasukkan Atlantic mackerel sebagai Best Choice, sedangkan king mackerel berada dalam kategori yang harus dihindari karena merkuri tinggi.

Artinya, konsumen perlu memperhatikan jenis ikan secara spesifik, bukan hanya nama umumnya.


9. Ikan Marlin

Marlin juga merupakan ikan predator besar yang masuk dalam daftar ikan dengan kadar merkuri tertinggi menurut FDA.

FDA mencantumkan marlin bersama hiu, swordfish, king mackerel, orange roughy, tilefish tertentu, dan bigeye tuna sebagai kelompok yang perlu dihindari dalam panduan konsumsi ikan untuk kelompok rentan.

Risiko utamanya adalah paparan methylmercury.

Karena merkuri dapat terakumulasi di dalam tubuh, persoalannya bukan sekadar apakah ikan tersebut dimasak matang, tetapi berapa banyak dan seberapa sering ikan dengan kadar merkuri tinggi dikonsumsi.


10. Tuna Mata Besar atau Bigeye Tuna

Tuna sebenarnya bukan satu kelompok dengan tingkat merkuri yang sama.

Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah bigeye tuna atau tuna mata besar.

FDA memasukkannya ke dalam kelompok ikan dengan kadar merkuri tertinggi.

Hal ini berbeda dengan beberapa produk tuna lainnya. Misalnya, FDA memasukkan canned light tuna, yang umumnya menggunakan skipjack, ke dalam kategori Best Choice, sedangkan albacore/white tuna dan yellowfin berada pada kategori berbeda.

Jadi, mengatakan “semua tuna berbahaya karena merkuri” juga tidak tepat.


Daftar 10 Ikan dan Alasan Risikonya

No. Jenis ikan Risiko utama Catatan
1 Ikan buntal Tetrodotoksin Beberapa spesies beracun
2 Barakuda Ciguatoxin Risiko bergantung wilayah
3 Kerapu Ciguatoxin Tidak semua kerapu beracun
4 Kakap merah Ciguatoxin Terutama dari wilayah berisiko
5 Amberjack Ciguatoxin Terkait ekosistem terumbu
6 Hiu Merkuri Predator besar
7 Swordfish/todak Merkuri Kadar methylmercury tinggi
8 King mackerel Merkuri Berbeda dari Atlantic mackerel
9 Marlin Merkuri Ikan predator besar
10 Bigeye tuna Merkuri Salah satu tuna dengan merkuri tinggi

Apakah Semua Ikan di Atas Benar-Benar Dilarang Dimakan?

Tidak.

Ini merupakan poin yang sangat penting.

Daftar di atas mencampurkan dua jenis risiko yang berbeda.

Pertama, ikan yang dapat mengandung toksin alami

Contohnya ikan buntal.

Untuk ikan seperti ini, risiko dapat berasal dari racun yang memang terdapat pada bagian tubuh ikan atau spesies tertentu.

Kedua, ikan yang dapat mengandung kontaminan lebih tinggi

Contohnya hiu, swordfish, marlin, king mackerel, dan bigeye tuna.

Dalam kasus ini, masalah utamanya adalah paparan methylmercury. FDA tidak mengatakan bahwa seluruh masyarakat tidak boleh pernah memakan ikan tersebut. Panduannya secara khusus menempatkan kelompok tertentu pada risiko lebih tinggi dan menyediakan pilihan ikan dengan kadar merkuri lebih rendah.

Ketiga, ikan yang berisiko hanya dalam kondisi tertentu

Barakuda, kerapu, kakap merah, dan amberjack merupakan contoh penting.

Ikan tersebut bukan otomatis beracun setiap kali ditangkap. Risikonya dapat muncul apabila ikan berasal dari lingkungan yang mengalami ciguatera.

Karena itu, asal ikan sangat penting.

Apakah Memasak Bisa Menghilangkan Racun pada Ikan?

Tidak selalu.

Untuk risiko yang berasal dari bakteri atau parasit, memasak dengan benar dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.

Namun, toksin tertentu berbeda.

Pada ciguatera, misalnya, CDC menyebut toksinnya tidak dihancurkan oleh proses memasak. Ikan yang terlihat normal pun dapat tetap mengandung toksin.

Demikian pula, memasak bukan solusi sederhana untuk membuat ikan buntal yang mengandung tetrodotoksin menjadi aman.

Karena itu, prinsip “kalau dimasak matang pasti aman” tidak berlaku untuk semua jenis bahaya pada ikan.

Bagaimana dengan Ikan yang Mengandung Merkuri?

Berbeda dengan racun yang menyebabkan keracunan akut, masalah merkuri lebih berkaitan dengan paparan dan akumulasi.

FDA menjelaskan bahwa hampir semua ikan mengandung sejumlah methylmercury, tetapi kebanyakan ikan memiliki kadar yang tidak menyebabkan masalah kesehatan bagi orang dewasa bila dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang wajar.

Karena itu, solusi bukan berhenti makan ikan sama sekali.

Justru yang dianjurkan adalah memilih beragam ikan dengan kadar merkuri lebih rendah.

FDA dan EPA menyediakan daftar pilihan ikan berdasarkan kadar merkuri untuk membantu konsumen menentukan ikan yang lebih aman dikonsumsi.

Ikan Apa yang Relatif Lebih Rendah Merkuri?

Tidak semua ikan predator berisiko tinggi.

FDA memasukkan beberapa jenis ikan sebagai Best Choice, antara lain:

  • sarden;
  • salmon;
  • ikan teri;
  • tilapia;
  • lele;
  • trout air tawar;
  • pollock;
  • Atlantic mackerel;
  • dan tuna kaleng light yang umumnya menggunakan skipjack.

Ini menunjukkan bahwa makan ikan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat, selama jenis dan jumlahnya diperhatikan.

Kenapa Ikan Besar Cenderung Lebih Berisiko Merkuri?

Salah satu alasannya adalah posisi ikan dalam rantai makanan.

Merkuri yang berada di lingkungan perairan dapat masuk ke organisme kecil dan kemudian berpindah ke ikan yang memakannya. Ikan predator yang lebih besar dan berumur lebih panjang dapat mengakumulasi lebih banyak methylmercury.

Itulah salah satu alasan mengapa beberapa predator besar seperti hiu, swordfish dan marlin masuk dalam kelompok ikan dengan merkuri tinggi.

Namun, ukuran ikan saja tidak cukup untuk menentukan keamanan. Spesies dan lingkungan tempat ikan hidup juga berpengaruh.

Bagaimana Memilih Ikan agar Lebih Aman Dikonsumsi?

Beberapa prinsip sederhana dapat membantu.

1. Ketahui asal ikan

Terutama untuk ikan karang, informasi mengenai lokasi penangkapan penting karena risiko ciguatera dapat berbeda menurut wilayah.

2. Jangan membeli ikan beracun dari sumber tidak jelas

Ini sangat penting untuk ikan buntal dan spesies lain yang memiliki risiko toksin.

3. Variasikan jenis ikan

Jangan hanya mengonsumsi satu jenis ikan terus-menerus.

Variasi membantu mengurangi paparan berulang terhadap kontaminan tertentu sekaligus memberikan beragam nutrisi.

4. Perhatikan kelompok yang lebih rentan

Ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, dan orang yang berencana hamil perlu lebih memperhatikan pilihan ikan dengan kadar merkuri rendah.

5. Jangan menganggap semua ikan berbahaya

Ikan merupakan sumber protein dan nutrisi penting. Masalah keamanan terutama muncul pada jenis, asal, jumlah, frekuensi, dan cara pengolahannya.

Kesimpulan

Ada sejumlah ikan yang perlu dihindari atau dibatasi karena dapat menimbulkan risiko kesehatan, tetapi alasannya tidak sama.

Ikan buntal berisiko karena tetrodotoksin. Sementara itu, barakuda, kerapu, kakap merah, dan amberjack dapat menjadi sumber ciguatera jika berasal dari wilayah yang berisiko.

Di sisi lain, hiu, swordfish, king mackerel, marlin, dan bigeye tuna termasuk ikan yang mendapat perhatian karena kadar methylmercury yang tinggi dalam panduan FDA.

Karena itu, istilah “10 ikan yang tidak boleh dikonsumsi” sebenarnya perlu dibaca sebagai daftar ikan yang memerlukan kewaspadaan, bukan berarti seluruh ikan tersebut selalu beracun dan tidak boleh dimakan oleh siapa pun.

Yang paling penting adalah mengetahui jenis ikan, asalnya, potensi toksinnya, kadar merkuri, serta siapa yang akan mengonsumsinya.

FAQ

Apa ikan yang paling berbahaya untuk dimakan?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua kondisi. Ikan buntal dapat sangat berbahaya karena tetrodotoksin, sedangkan ikan tertentu seperti hiu dan swordfish perlu diwaspadai karena kadar methylmercury yang tinggi.

Apakah ikan kerapu tidak boleh dimakan?

Tidak secara umum. Kerapu merupakan ikan yang lazim dikonsumsi. Namun, kerapu termasuk ikan karang yang dapat terkait dengan ciguatera di wilayah tertentu.

Apakah semua tuna mengandung merkuri tinggi?

Tidak. Jenis tuna memiliki kadar merkuri yang berbeda. FDA memasukkan tuna kaleng light sebagai Best Choice, sedangkan bigeye tuna termasuk kelompok dengan kadar merkuri tertinggi.

Apakah memasak ikan dapat menghilangkan merkuri?

Memasak bukan cara untuk menghilangkan methylmercury dari ikan. Cara utama mengurangi paparan adalah memilih jenis ikan yang lebih rendah merkuri dan mengatur jumlah serta frekuensi konsumsinya.

Apakah ikan buntal aman jika dimasak dengan benar?

Tidak sebaiknya mengandalkan memasak biasa sebagai jaminan keamanan. Beberapa ikan buntal dapat mengandung tetrodotoksin yang sangat berbahaya, sehingga konsumsi harus berasal dari sumber dan pengolahan yang benar-benar terjamin.


Artikel terkait

Telah terbit oleh

kuat

kuat

Untuk menjadi pribadi yang kuat & sehat diperlukan kemauan. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman pribadi & sebagian berdasarkan sumber terbaru & bisa dipercaya.

Tulisan artikel di sini tidak memperjual belikan obat atau jasa pengobatan.