Rambut yang tiba-tiba lebih banyak rontok setelah seseorang sakit cukup sering terjadi. Kondisi ini terutama dapat muncul beberapa minggu atau bulan setelah tubuh mengalami demam tinggi, infeksi berat, operasi, stres fisik, atau perubahan besar lainnya. Salah satu penyebab yang paling umum adalah telogen effluvium, yaitu kondisi ketika lebih banyak rambut masuk ke fase istirahat dan kemudian rontok.
Karena kerontokan sering muncul ketika seseorang sudah merasa pulih, hubungan antara sakit sebelumnya dan rambut yang rontok kadang tidak langsung terlihat.
Mengapa setelah sakit rambut bisa rontok?

Rambut tidak tumbuh secara bersamaan. Setiap helai rambut memiliki siklus pertumbuhan, istirahat, dan kerontokan.
Ketika tubuh mengalami tekanan yang cukup berat, sebagian rambut yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dapat lebih cepat masuk ke fase istirahat. Beberapa waktu kemudian, rambut tersebut akan lepas dari kulit kepala dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya.
Inilah yang terjadi pada telogen effluvium. Kondisi ini dapat dipicu oleh demam tinggi, infeksi berat, operasi, stres fisik maupun emosional, perubahan hormon, hingga pola makan yang sangat membatasi asupan tertentu.
Kerontokan biasanya tidak langsung terjadi saat sakit
Salah satu hal yang sering membuat orang bingung adalah waktu munculnya kerontokan.
Seseorang mungkin sudah sembuh dari demam atau infeksi, tetapi baru menyadari rambutnya banyak rontok beberapa bulan kemudian. Pada telogen effluvium, kerontokan umumnya mulai terlihat sekitar dua sampai tiga bulan setelah pemicu.
American Academy of Dermatology juga menjelaskan bahwa kerontokan berlebihan biasanya baru terlihat beberapa bulan setelah tubuh mengalami tekanan seperti demam tinggi atau penyakit.
Karena itu, ketika rambut mulai banyak tertinggal di bantal, sisir, atau saluran kamar mandi, penyebabnya bisa saja bukan sesuatu yang terjadi pada hari itu, melainkan kondisi yang dialami beberapa bulan sebelumnya.
Apa hubungannya dengan demam dan infeksi?
Demam tinggi dan infeksi dapat menjadi tekanan bagi tubuh. Saat tubuh berfokus menghadapi penyakit dan memulihkan diri, siklus normal pertumbuhan rambut dapat ikut terganggu.
Tidak semua orang yang sakit akan mengalami kerontokan. Risiko lebih berkaitan dengan seberapa besar tekanan yang dialami tubuh dan kondisi masing-masing orang.
Setelah kondisi pemicu teratasi, siklus rambut biasanya secara bertahap kembali normal.
Mengapa obat atau pengobatan tertentu bisa menyebabkan rambut rontok?
Selain penyakitnya sendiri, obat atau jenis pengobatan tertentu juga dapat memengaruhi rambut.
Beberapa obat diketahui dapat memicu telogen effluvium. Cleveland Clinic mencatat sejumlah kelompok obat yang dapat berkaitan dengan kondisi tersebut, termasuk beberapa obat retinoid, beta-blocker, calcium channel blocker, obat untuk depresi, dan obat antiinflamasi nonsteroid tertentu.
Karena penyebab kerontokan bisa berbeda-beda, seseorang sebaiknya tidak langsung menghentikan obat yang sedang diresepkan hanya karena rambut mulai rontok. Jika kerontokan muncul setelah memulai obat baru, dokter dapat membantu menilai apakah obat tersebut memang berperan dan apakah perlu dilakukan perubahan terapi.
Kerontokan setelah kemoterapi berbeda
Kerontokan rambut akibat kemoterapi memiliki mekanisme yang berbeda dari telogen effluvium.
Kemoterapi dapat menyebabkan anagen effluvium, yaitu kerontokan yang terjadi karena obat mengganggu sel-sel rambut yang sedang aktif tumbuh. Karena sel pembentuk rambut termasuk sel yang berkembang cepat, obat kemoterapi dapat ikut memengaruhinya.
Kerontokan jenis ini dapat berlangsung jauh lebih cepat. Pada sebagian orang, rambut mulai rontok sekitar dua minggu setelah pemicu. Rambut juga dapat menipis bukan hanya di kulit kepala, tetapi pada alis, bulu mata, dan bagian tubuh lainnya.
Pada kebanyakan kasus, rambut akan kembali tumbuh setelah pengobatan selesai, meskipun pada kondisi tertentu kerontokan dapat berlangsung lebih lama atau tidak sepenuhnya pulih.
Apakah rambut akan tumbuh kembali?
Pada telogen effluvium, jawabannya umumnya ya.
Kondisi ini biasanya bersifat sementara. Setelah pemicu teratasi, rambut secara bertahap kembali memasuki siklus pertumbuhan. Cleveland Clinic menyebut kerontokan biasanya berlangsung sekitar tiga sampai enam bulan, kemudian pertumbuhan baru mulai terlihat.
American Academy of Dermatology menyebut rambut biasanya kembali mendapatkan kepadatan normal dalam sekitar enam sampai sembilan bulan setelah pemicu teratasi.
Namun, waktu pemulihan setiap orang tidak sama. Jika seseorang memiliki masalah rambut lain, seperti kerontokan akibat faktor keturunan, kondisi tersebut dapat berlangsung bersamaan dengan kerontokan setelah sakit.
Bagaimana membedakan kerontokan sementara dengan masalah rambut lain?
Telogen effluvium biasanya ditandai dengan rambut yang rontok lebih banyak secara menyeluruh, bukan satu bagian tertentu yang tiba-tiba botak.
Rambut dapat terlihat menipis terutama di bagian atas kepala, tetapi biasanya kulit kepala tetap tampak sehat. Kondisi ini berbeda dari beberapa jenis kerontokan lain yang dapat menyebabkan pola penipisan tertentu atau bercak botak.
Kerontokan akibat faktor keturunan, misalnya, cenderung berkembang secara bertahap. Sementara itu, telogen effluvium lebih khas dengan peningkatan jumlah rambut yang rontok dalam waktu relatif singkat.
Apa yang bisa dilakukan saat rambut banyak rontok setelah sakit?
Hal pertama yang penting adalah mencari tahu pemicunya. Jika kerontokan memang terjadi setelah sakit dan tidak ada tanda masalah lain, kondisi tersebut sering kali membaik seiring tubuh pulih.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
- Pastikan makanan tetap menyediakan cukup energi dan protein.
- Hindari diet ekstrem atau penurunan berat badan secara drastis.
- Rawat rambut dengan lembut dan hindari kebiasaan yang menarik rambut terlalu kuat.
- Jangan sembarangan mengonsumsi suplemen rambut tanpa mengetahui apakah memang ada kekurangan nutrisi.
- Jika kerontokan muncul setelah menggunakan obat tertentu, konsultasikan dengan dokter sebelum mengubah atau menghentikan obat.
Asupan yang cukup penting karena kekurangan nutrisi tertentu juga dapat berhubungan dengan kerontokan rambut. Dokter dapat melakukan pemeriksaan bila diperlukan, misalnya untuk mencari masalah seperti gangguan tiroid atau kekurangan zat besi.
Kapan perlu diperiksa ke dokter?
Kerontokan setelah sakit sering kali bersifat sementara, tetapi tidak semua rambut rontok setelah sakit disebabkan oleh telogen effluvium.
Sebaiknya periksakan diri jika kerontokan sangat banyak, berlangsung lama, muncul dalam bentuk bercak, kulit kepala mengalami gatal atau perubahan lain, atau rambut tidak menunjukkan tanda-tanda tumbuh kembali seperti yang diharapkan.
Dokter dapat melihat kondisi kulit kepala dan riwayat kesehatan untuk mencari penyebabnya. Jika diperlukan, pemeriksaan darah juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi tertentu, seperti fungsi tiroid atau kadar zat besi.
Terutama jika kerontokan muncul setelah memulai obat atau menjalani pengobatan tertentu, informasi mengenai obat dan waktu penggunaannya akan membantu dokter menentukan kemungkinan penyebabnya.
Jadi, apakah rambut rontok setelah sakit itu normal?
Kerontokan rambut setelah sakit dapat merupakan respons sementara tubuh, terutama jika terjadi beberapa bulan setelah demam tinggi, infeksi, operasi, atau tekanan fisik yang berat. Salah satu penyebab yang umum adalah telogen effluvium.
Yang perlu dipahami, rambut yang rontok setelah seseorang sembuh bukan berarti folikel rambut pasti rusak atau seseorang akan mengalami kebotakan permanen. Pada telogen effluvium, siklus rambut umumnya dapat kembali normal setelah tubuh pulih dari pemicunya.
Namun, apabila kerontokan sangat berat, menetap, atau memiliki pola yang tidak biasa, penyebab lain perlu dipertimbangkan. Karena itu, pemeriksaan dokter kulit dapat membantu memastikan apakah kerontokan tersebut memang merupakan bagian dari proses pemulihan atau berkaitan dengan kondisi lain.