Pengguna X Ungkap Pengalaman soal Kalori dan Makan Berlebihan

Percakapan di media sosial X memperlihatkan bagaimana sebagian pengguna membagikan pengalaman pribadi seputar penghitungan kalori, makan berlebihan, pembatasan makan, hingga olahraga yang dilakukan sebagai kompensasi setelah makan.

Unggahan semacam ini dapat terlihat seperti cerita sehari-hari tentang pola makan. Namun, ketika pembicaraan sudah berkaitan dengan pembatasan makanan yang ketat, rasa bersalah setelah makan, atau dorongan untuk berolahraga demi "menebus" makanan yang dikonsumsi, topiknya menjadi lebih serius karena berkaitan dengan perilaku makan yang tidak sehat.

kekurangan kalori

Fenomena tersebut juga muncul dalam komunitas daring yang menggunakan istilah seperti EDTWT (Eating Disorder Twitter). Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 menganalisis 48.341 unggahan dari 18.587 pengguna dalam komunitas EDTWT dan menemukan bahwa pembahasan tentang pelacakan kalori, citra tubuh, pembatasan makan, serta pemulihan memang menjadi bagian dari percakapan komunitas tersebut.

Pengguna X Membagikan Pengalaman Pribadi

Salah satu pola yang terlihat dalam percakapan tersebut adalah pengguna menceritakan hubungan mereka dengan makanan secara sangat terbuka.

Cerita dapat mencakup kebiasaan menghitung kalori, pengalaman makan dalam jumlah sangat banyak, mencoba berpuasa setelah makan, atau menjadikan olahraga sebagai cara untuk mengimbangi makanan yang dikonsumsi.

Unggahan seperti ini sering mendapatkan respons dari pengguna lain yang memiliki pengalaman serupa. Interaksi tersebut kemudian membentuk percakapan yang berlangsung secara terus-menerus dan membuat seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Di satu sisi, rasa memiliki komunitas dapat membuat seseorang lebih mudah bercerita. Di sisi lain, lingkungan yang terus-menerus membicarakan berat badan, makanan, kalori, atau bentuk tubuh juga dapat memperkuat pola pikir yang tidak sehat.

Penelitian mengenai komunitas pro-eating-disorder di Twitter sebelumnya menunjukkan bahwa interaksi antarpengguna dapat menciptakan rasa dukungan sosial, tetapi pada saat yang sama berpotensi memperkuat identitas dan perilaku terkait gangguan makan.

Apa Itu Komunitas EDTWT?

EDTWT merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada komunitas di Twitter/X yang membahas pengalaman terkait gangguan makan (eating disorders).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komunitas tersebut tidak sepenuhnya homogen. Di dalamnya terdapat konten yang berkaitan dengan perilaku gangguan makan, pembatasan makan, citra tubuh, tetapi juga percakapan mengenai pemulihan (recovery).

Dalam penelitian terhadap aktivitas EDTWT selama Januari 2022 hingga Februari 2025, sekitar seperempat unggahan yang dianalisis memuat kata kunci klinis terkait gangguan makan. Topik yang ditemukan antara lain citra tubuh, pembatasan makan, pelacakan kalori, dan pemulihan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas komunitas semacam ini tidak dapat dilihat hanya sebagai satu bentuk percakapan. Ada pengalaman yang berbeda-beda, termasuk orang yang sedang mengalami masalah makan dan mereka yang membicarakan proses pemulihan.

Ketika Menghitung Kalori Berubah Menjadi Beban

Menghitung kalori pada dirinya sendiri tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan makan. Sebagian orang menggunakan pencatatan makanan sebagai bagian dari pengelolaan pola makan atau kebutuhan kesehatan tertentu.

Masalah dapat muncul ketika penghitungan tersebut menjadi sumber kecemasan atau menguasai aktivitas sehari-hari.

Misalnya, seseorang terus memikirkan angka makanan yang dikonsumsi, merasa sangat bersalah setelah makan, atau merasa harus melakukan aktivitas tertentu untuk mengompensasi makanan.

Pola seperti itu perlu dilihat secara berbeda dari sekadar mencatat makanan.

Karena itu, cerita mengenai "menghitung kalori" di media sosial tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan kondisi kesehatan seseorang. Konteks dan pola perilakunya jauh lebih penting.

Makan Berlebihan Juga Sering Dibicarakan

Sebagian pengguna menceritakan pengalaman makan dalam jumlah yang menurut mereka sangat banyak, kemudian menghubungkannya dengan rasa bersalah atau keinginan untuk membatasi makanan setelahnya.

Dalam percakapan daring, pengalaman tersebut kadang dibagikan secara terbuka dan mendapat komentar dari pengguna lain.

Namun, membicarakan pengalaman makan berlebihan secara terus-menerus dapat menjadi masalah apabila percakapan justru memperkuat siklus makan berlebihan, rasa bersalah, pembatasan, kemudian kembali makan berlebihan.

Karena itu, cerita pribadi di media sosial sebaiknya tidak diperlakukan sebagai panduan mengenai bagaimana seseorang seharusnya makan atau berolahraga.

Mengapa Olahraga Bisa Menjadi Bagian dari Masalah?

Olahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, alasan seseorang berolahraga juga penting.

Olahraga dapat menjadi bagian dari perilaku yang perlu diperhatikan apabila seseorang merasa harus berolahraga setiap kali makan, menggunakan olahraga sebagai "hukuman", atau merasa cemas jika tidak dapat berolahraga.

Dalam konteks gangguan makan, perilaku kompensasi dapat menjadi salah satu tanda masalah yang lebih serius.

Hal inilah yang membuat cerita tentang olahraga "supaya bisa makan lebih banyak" perlu dilihat secara hati-hati. Tidak cukup hanya melihat aktivitas olahraganya; perlu dilihat pula hubungan orang tersebut dengan makanan, tubuh, rasa bersalah, dan kebutuhan untuk mengompensasi.

Media Sosial Dapat Memperkuat Pola Perilaku

Salah satu karakter media sosial adalah kemampuannya membuat seseorang terus menerima konten yang serupa.

Penelitian mengenai TikTok, misalnya, menemukan bahwa algoritme pada akun pengguna dengan gangguan makan dapat lebih sering memberikan konten yang berkaitan dengan penampilan, diet, olahraga, dan konten gangguan makan dibandingkan kelompok kontrol. Studi tersebut menemukan perbedaan yang sangat besar pada paparan konten yang dikategorikan sebagai toxic eating disorder.

Temuan ini tidak berarti setiap orang yang melihat konten tentang makanan atau olahraga akan mengalami gangguan makan. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa sistem rekomendasi dapat membuat seseorang semakin sering terpapar materi yang sejalan dengan minat atau perilaku sebelumnya.

Inilah salah satu alasan mengapa konsumsi konten media sosial perlu diperhatikan ketika seseorang sudah merasa tertekan dengan makanan atau bentuk tubuhnya.

Komunitas Daring Tidak Selalu Hanya Berisi Konten Berbahaya

Penting juga untuk tidak menyamaratakan seluruh komunitas gangguan makan sebagai ruang yang hanya berisi konten berbahaya.

Penelitian terhadap EDTWT pada 2026 menemukan adanya konten pemulihan berdampingan dengan konten terkait gangguan makan.

Penelitian lain mengenai konten pemulihan gangguan makan di media sosial juga menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi tempat berbagi pengalaman dan membangun rasa komunitas. Namun, konten yang mengaku sebagai bagian dari pemulihan tetap dapat memuat unsur yang berkaitan dengan perilaku gangguan makan.

Hal serupa ditemukan dalam penelitian mengenai TikTok. Sebuah studi 2026 menemukan bahwa sebagian konten yang menggunakan label pemulihan gangguan makan masih mengandung unsur yang dapat memperkuat norma makan tidak sehat atau perbandingan tubuh.

Artinya, label seperti "recovery" tidak selalu menjamin bahwa seluruh isi kontennya aman atau membantu.

Mengapa Percakapan seperti Ini Perlu Diperhatikan?

Pembicaraan tentang makanan dan tubuh dapat menjadi sangat intens ketika berlangsung di ruang digital yang aktif sepanjang waktu.

Seseorang tidak hanya membaca pengalaman dirinya sendiri, tetapi juga melihat pengalaman puluhan atau bahkan ratusan orang lain. Perbandingan tersebut dapat membuat standar mengenai makanan, berat badan, atau bentuk tubuh semakin sulit dikendalikan.

Penelitian terbaru tentang EDTWT menemukan bahwa sebagian kecil pengguna menghasilkan proporsi besar dari seluruh aktivitas komunitas. Dalam data penelitian tersebut, 10 persen pengguna teraktif menghasilkan 48,9 persen seluruh unggahan.

Ini menunjukkan bahwa pengalaman komunitas yang terlihat sangat ramai belum tentu mewakili pengalaman semua penggunanya.

Jangan Menjadikan Cerita di Media Sosial sebagai Panduan Diet

Cerita pengguna mengenai makanan dan tubuh merupakan pengalaman pribadi, bukan pengganti saran tenaga kesehatan.

Terlebih ketika unggahan berisi pembatasan makan, rasa bersalah terhadap makanan, olahraga kompulsif, atau perilaku lain yang berpotensi membahayakan.

Membandingkan diri dengan pengalaman pengguna lain juga dapat membuat seseorang semakin fokus pada angka, berat badan, atau bentuk tubuh.

Jika seseorang mulai merasa bahwa makanan, berat badan, atau olahraga menguasai pikirannya, langkah yang lebih aman adalah membicarakannya dengan dokter, psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan lain yang memahami gangguan makan.

Kesimpulan

Pengalaman pengguna X mengenai penghitungan kalori, makan berlebihan, pembatasan makan, dan olahraga menunjukkan bagaimana persoalan hubungan dengan makanan dapat dibicarakan secara terbuka di media sosial.

Komunitas seperti EDTWT memperlihatkan sisi yang kompleks. Ada percakapan mengenai gangguan makan dan perilaku yang berisiko, tetapi juga terdapat pengguna yang membicarakan pemulihan dan mencari dukungan. Penelitian 2026 terhadap puluhan ribu unggahan EDTWT menguatkan gambaran tersebut.

Karena itu, konten mengenai kalori dan tubuh sebaiknya tidak hanya dilihat dari seberapa banyak interaksi yang diperoleh. Yang lebih penting adalah apakah percakapan tersebut membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan dan tubuhnya atau justru memperkuat rasa takut, rasa bersalah, dan perilaku kompulsif.

Media sosial dapat menjadi tempat seseorang menemukan komunitas, tetapi ketika pembicaraan mengenai makanan mulai terasa menguasai kehidupan sehari-hari, dukungan dari tenaga profesional menjadi jauh lebih penting daripada mengikuti pengalaman pengguna lain secara daring.


Artikel terkait

Telah terbit oleh

kuat

kuat

Untuk menjadi pribadi yang kuat & sehat diperlukan kemauan. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman pribadi & sebagian berdasarkan sumber terbaru & bisa dipercaya.

Tulisan artikel di sini tidak memperjual belikan obat atau jasa pengobatan.